Mendidik Kreatifitas Anak
September 12, 2007
Oleh : Rahmadona Fitria*
(Dimuat pada Harian Umum RADAR BANJARMASIN, Sabtu 14 Juli 2007)
MENURUT pengakuan seorang ibu korban penyalahgunaan Narkoba dalam sebuah program acara Mutiara Jum’at di stasiun TV, ia terjerumus dalam lingkaran Narkoba karena alasan merasa hidupnya tidak bermakna. Berada dalam kondisi ekonomi yang serba berkecukupan segalanya terfasilitasi, beliau justru merasa tidak berguna. Sebenarnya yang terjadi pada ibu ini adalah ketidaktahuannya tentang bagaimana cara mengisi kekosongan dalam dirinya.Ada dua hal yang menyebabkan hal ini terjadi pada seseorang, pertama tidak mengenali potensi yang dapat dikembangkan dalam dirinya. Kedua, tidak adanya aktualisasi diri. Hal ini bisa dialami oleh siapa saja, termasuk anak-anak. Dalam rangka pendekatan pada anak dikenal pendekatan dari segi Psikologi Humanistik. Psikologi Humanistik memandang manusia sebagai makhluk yang kreatif yang dikendalikan oleh nilai-nilai dan pilihan-pilihannya sendiri. Bahwa perilaku manusia lebih ditentukan oleh kemampuan-kemampuan yang ada dalam diri manusia itu sendiri. Psikologi Humanistik sangat relevan dalam segi pendidikan.
Dalam dunia pendidikan, psikologi humanistik menempatkan fokus pendidikan pada aspek mengembangkan kreatifitas anak atau aktualisasi diri, baik itu pendidika di rumah, sekolah maupun dimasyarakat. Dengan berkembangnya kreatifitas anak akan terkait erat dengan perkembangan sifat-sifat lainnya, seperti mempunyai banyak ide, mempunyai kemampuan berfikir menyeluruh, ia akan melihat alternatif pemecahan masalah, kemandirian yang baik, dan kepercayaan diri yang positif.Sehingga dengan kretifitas yang dimiliki, anak dapat mengaktualisasikan dirinya sebagai tujuan dari segenap usaha manusia.
Untuk mengembangkan kreatifitas anak dibutuhkan pengertian dan kesiapan mental orang tua. Orang tua harus bersedia melepaskan kebiasaan-kebiasaan yang menghambat atau tidak sejalan dengan pengembangan kreatifitas anak, seperti orang tua marah pada anak yang alat permainannya dirusak dan dikombinasikan dengan alat-alat permainan lainnya. Sebenarnya dalam hal ini anak sedang mengembangkan kreatifitasnya.
Pada prinsipnya orang tua perlu mempunyai sikap yang memungkinkan anak untuk dapat mengembangkan dirinya dengan baik. Pandanglah anak sebagai anak yang berarti, mempunyai kemampuan yang perlu dikembangkan. Berilah kesempatan pada anak untuk menyatakan apa yang ada dalam dirinya.
Jangan biarkan perhatian orang tua hanya fokus pada kekurangan atau keterbatasan anak tapi temukan potensi-potensi yang bisa dikembangkan dalam diri anak. Berilah kesempatan anak untuk mengembangkan kemampuan-kemampuannya, ketika anak memang telah mempunyai kesiapan mengenai akan hal itu. Apabila diperlukan orang tua bisa memberikan pengarahan dan kontrol agar apa yang ditempuh anak tidak menyimpang dari tujuan sejati sebuah pendidikan.
Dengan demikian orang tua telah memberikan saham dalam rangka pembentukan generasi bintang Indonesia, khususnya generasi Banua yang memiliki kebermaknaan hidup dalam mengembangkan amanah Ilahi, generasi kreatif, mandiri, mampu menjadi solusi, dan mempunyai kepercayaan diri positif yang pada akhirnya akan mewarnai pribadinya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar