Membangun Kreativitas, tanpa Century
“Orang gila saja melakukan kreatifitas, mereka sadar atau tidak sadari. Lalu, apakah Anda manusia normal? Buktikan dengan kreatifitas!”
ADA satu hal yang sering dipahami sebagai pemicu sebuah potensi sehingga dia menjadi efektif, atau bahkan sebuah kerja (usaha) menjadi lebih menghasilkan. Ia adalah kreatifitas. Kreatifitas adalah kemampuan untuk menciptakan atau mengadakan sesuatu yang menyebabkan sesuatu menjadi lebih efektif dan menghasilkan sesuatu yang lebih baik.
Saya percaya bahwa Anda lebih memahami apa arti dan makna kata kreatifitas. Karena itu, di sini saya tak perlu lagi menjelaskannya secara detail, baik secara bahasa maupun istilah. Saya hanya fokuskan untuk berbicara mengenai hal lain. Maksud saya, saya mengajak Anda untuk memahami kreatifitas dari sisi yang berbeda.
Saya percaya kalau Anda pernah mendengar ungkapan ini, “Di mana ada kemauan di situ ada jalan.” Atau mungkin Anda juga pernah mendengar ungkapan ini, “Percayalah sesuatu itu dapat dilakukan.” Bagi siapapun, ini adalah dasar bagi berpikir kreatif.
Paling tidak ada dua hal yang bisa saya sampaikan terkait kedua ungkapan di atas. Pertama, kemauan adalah salah satu kunci utama sebuah impian. Sebuah kondisi, atau keadaan akan berubah jika seseorang memiliki niat dan tekad yang kuat untuk merubahnya. Demikian juga sebuah impian, dia akan terwujud dalam ruang kenyataan jika ada tekad atau kemauan yang kuat dari siapa yang mengimpikannya.
Kedua, sesuatu yang ingin dirubah atau ingin diwujudkan pasti ada jalannya. Bagi saya, Allah itu tidak mungkin membiarkan ciptaan-Nya (baca: manusia) berjalan tanpa bantuan-Nya. Allah pasti menolong dan memberi bantuan kepada manusia, asal manusia percaya dan mau berusaha. Jalan untuk berubah atau untuk mewujudkan impian itu pasti ada. Baik yang saya atau Anda rencanakan (terduga), maupun yang tidak saya atau Anda rencanakan (tak terduga).
Suatu ketika saya diundang untuk mengisi sebuah seminar (baca: sekolah) politik di salah satu kampus di Bandung. Waktu itu saya diminta untuk mengisi materi tentang generasi muda dan masa depan Indonesia. Saya lupa tema pastinya ketika itu, yang jelas masih seputar kemahasiswaan atau kepemudaan.
Singkat cerita, sayapun menyampaikan beberapa hal terkait dengan tema tersebut, tentu dengan berbagai macam metode yang digunakan. Ada diskusi, simulasi dan lain-lain. Pokoknya suasananya cukup ramai dan menurut saya cukup efektif dalam menyampaikan materi yang diminta untuk saya sampaikan pada agenda itu.
Mungkin yang diharapakn oleh panitia ketika itu, saya mesti menyampaikan materi seputar kondisi sosial-politik kaitannya dengan posisi dan peran mahasiswa. Namun, jujur saja, secara substansi mungkin apa yang saya sampaikan waktu itu ada kaitannya, namun di sisi lain sepertinya ada semacam perbedaan yang membuat respon panitia kelihatan agak berbeda.
Mengapa demikian? Karena waktu itu saya tidak menjelaskan materi itu pada kontek yang natural atau biasa, tapi dari sisi pola dan cara berpikir dalam memahami posisi atau peran mahasiswa dalam konteks memandang masa depan Indonesia. Mungkin bagi sebagian orang penjelasan saya waktu itu tidak ada kaitannya dengan tema yang disodorkan, namun bagi saya—sebagaimana pemahaman sebagian yang lain yang hadir di situ—ternyata apa yang saya sampaikan waktu itu sangat pas dan tepat untuk konteks mahasiswa dan apa yang mesti mereka miliki pada kondisi saat ini dalam mewujudkan impian mereka dalam mengendalikan masa depan bangsanya.
Waktu itu saya membawa mereka ke ruang yang dalam lingkup pelatihan (training) pengembangan diri disebut sebagai kreatifitas. Perlu Anda ketahui bahwa memahami posisi dan peran mahasiswa dalam konteks mematangkan diri untuk masa depan yang terbaik, maka yang mesti dimiliki adalah beberapa hal, seperti:
Pertama, hapus kata tidak mungkin dalam pemikiran maupun dalam kosa kata pembicaraan Anda. Karena ia adalah kata yang membangun kegagalan dalam ruang pikiran dan alam bawa sadar Anda. Berikutnya, ia akan membawa Anda pada kemalasan yang berkepanjangan. Kalau ingin mematangkan diri dalam konteks berperan dan mengendalikan masa depan, maka hapus sekarang juga dari pikiran Anda.
Kedua, pikirkan sesuatu yang istimewa dari apa saja yang Anda inginkan, dimana sesuatu itu sering menyulitkan Anda. Hal ini bisa dilakukan dengan cara menyusun sebanyak-banyaknya daftar alasan mengapa sesuatu itu mesti Anda lakukan. Percayalah bahwa dengan menyusun alasan sebanyak-banyaknya mengapa Anda mesti melakukan itu, maka Anda akan dapat melakukannya walaupun Anda kadang merasa tidak dapat melakukannya.
Terkadang sesuatu itu menjadi gampang dan mudah dilakukan karena Anda terprovokasi atau terpengaruhi oleh faktor ‘alasan’ atau latarbelakang mengapa Anda mesti melakukan sesuatu itu. Misalnya saja, ada seorang anak yang ingin kuliah di sebuah perguruan tinggi yang memiliki standar penerimaan yang cukup menantang. Biasanya seseorang calon mahasiswa yang ingin kuliah di perguruan tinggi tersebut akan merasa lemah dan tak mampu karena membandingkan kemampuan dirinya dengan syarat penerimaan mahasiswa. Tapi jika dia memiliki tekad yang kuat dan dengan mengumpulkan alasan mengapa dia mesti kuliah di tempat tersebut maka dia akan dengan mudah untuk masuk ke perguruan tinggi tersebut. Artinya, kadang sesuatu yang istimewa yang terdapat dalam pikiran Anda menjadi tidak istimewa atau merasa sulit untuk mewujudkannya, akan berubah 180 deajat jika Anda mampu meyakinkan diri Anda dengan berbagai alasan positif yang mendukung. Jadi, buatlah daftar alasan sebanyak-banyaknya mengapa Anda mesti sukses, misalnya. Atau mengapa Anda mesti kuliah, mengapa Anda mesti kaya, mengapa Anda mesti menjadi penulis, mengapa Anda mesti ikut merubah bangsa ini dan lain sebagainya.
Kalau Anda masih suka dengan cara berpikir biasa, maka Anda hanya akan menjadi budak pikiran dan lingkungan Anda. Karena itu, jika Anda ingin mengendalikan masa depan sebuah bangsa atau bahkan mungkin diri Anda sendiri, maka yang mesti Anda lakukan adalah membangun kreatifitas. Buat sesuatu itu dari kebiasaan biasa menuju kebiasaan baru. Hal ini bisa juga dinamai sebagai inovasi.
Dalam konteks ini Anda mesti belajar ke Jepang. Saya tidak perlu menjelaskan secara detail bagaimana Jepang menjadi besar dan dahsyat seperti sekarang ini. Yang jelas, setelah Hirosima dan Nagasaki dibombardir, Jepang langsung bangkit. Pemerintah dan rakyatnya bersama-sama untuk melakukan yang terbaik bagi bangsanya. Intinya adalah mereka sangat inovatif dan kreatif. Dalam kemajuan teknologi misalnya, kalau ditelisik-telisik sebetulnya tidak ada sesuatu yang baru, namun Jepang berhasil mengemas sesuatu yang biasa menjadi baru. Itulah kreativitas.
Jika Anda ingin berperan secara total dalam mematangkan diri untuk mengendalikan masa depan, maka yang mesti Anda lakukan adalah:
Pertama, jadilah orang yang siap menerima gagasan. Sambutlah gagasan baru dan berbeda. Hancurkan pikiran penghalang yang menghambat Anda untuk berkontribusi, seperti kata-kata berikut ini: tidak akan bisa, tidak akan berhasil, tidak dapat terlibat, tidak bisa dikendalikan, kondisinya sudah begini, hal ini tidak ada gunanya, ini bangsa miskin dan tidak bisa maju, ini memang bangsa yang bodoh dan lain sebagainya.
Jika pikiran Anda diisi oleh hal-hal seperti ini maka yang tertimbul dari aktivitas dan sikap Anda adalah hal-hal negatif. Anda hanya diam dan tak mau berpikir apapun untuk apa yang Anda sebut sebagai masa depan. Alih-alih mengendalikan masa depan, bahkan Anda kemudian akan dikendalikan oleh sisa waktu yang Anda miliki.
Kedua, jadilah orang yang suka bereksperimen (mencoba, mengujicoba). Ya, Anda mesti melakukan latihan atau eksperimentasi. Dobrak sesuatu yang rutin yang tetap menjadi berubah. Pergilah ke tempat baru, beli buku baru, jalan-jalan ke tempat yang berbeda, pergilah ke tempat yang tak biasa Anda kunjungi, berjanjilah untuk berteman dengan orang yang berbeda pemikiran, dan seterusnya. Intinya, melatihlah diri Anda untuk hidup atau bersikap dengan cara yang agak berbeda dari biasanya. Asal satu syarat: tetap terkendali dan dalam koridor visi dan rencana besar yang ingin Anda wujudkan. Maksudnya, bukan berarti Anda berubah dari hal positif ke yang negatif; tapi dari hal yang sederhana ke sesuatu yang istimewa. Apakah Anda mampu melakukan hal itu? Hanya Andalah yang mampu memberikan jawaban untuk diri sendiri!
Katakanlah, misalnya, sekarang Anda terbiasa untuk membaca buku penerbit Mizan, maka cobalah Anda membaca buku penerbit Gema Insani Press (GIP) atau penerbit Pena Publisher. Kalau hari ini Anda berkunjung ke toko buku Gramedia, maka esok atau lusa Anda mesti berkunjung ke Pustaka Pena, Rumah Buku, Toga Masa dan seterusnya. Bagaimana, apakah Anda memiliki pendapat?
Ketiga, jadilah orang yang progresif. Sesekali berpikirlah seperti ini, “Bagaimana saya dapat mengerjakannya lebih baik daripada cara yang bisa saya lakukan” bukan “Itulah cara saya bisa mengerjakannya maka saya harus mengerjakannya dengan cara itu”.
Orang yang peduli dengan sebuah impian dan pengendalian masa depan akan membiasakan diri untuk bertanya seperti ini, “Bagaimana caranya agar saya dapat meningkatkan kualitas peran dan prestasi saya? Dan bagaimana caranya agar saya dapat bekerja lebih baik lagi?”.
Artinya, orang yang mampu dan sukses mengendalikan masa depan tidak mau mengatakan seperti ini, “Dapatkah saya melakukannya dengan lebih baik?” Ia justru menggantinya dengan, “Bagaimana saya dapat melakukan ini dengan yang lebih baik lagi?” dan seterusnya.
Singkat cerita sayapun sampai ke ujung waktu yang disediakan untuk menjelaskan materi yang mesti saya sampaikan. Selain dengan ceramah dan diskusi, saya juga melakukan berbagai simulasi yang menurut saya efektif untuk menjelaskan materi tersebut. Melihat respon positif peserta dan panitia menunjukkan bahwa metode yang saya gunakan tersebut sangat sesuai dengan apa yang mereka inginkan dari materi (baca: kegiatan) tersebut.
Anda mungkin pernah membaca buku Melejit dengan Kreatif karya Yusuf al-Uqshari. Jika belum membaca, saya mengusulkan Anda membaca buku ini. Ada poin penting yang saya peroleh dalam buku ini, salah satunya adalah langkah-langkah berpikir kreatif. Menurut beliau, ada dua langkah berpikir kreatif, yaitu: pertama, cara berpikir menjauh: meluaskan cakrawala dengan melontarkan asumsi-asumsi dan memandang masalah dengan cara yang berbeda. Tujuannya adalah untuk menemukan sesuatu atau pemikiran yang sama sekali baru.
Kedua, cara berpikir mendekat: berusaha menentukan nilai ide-ide yang ditemukan dan mengembangkannya agar menjadi sesuatu yang berguna. Hal ini dilakukan dengan menggunakan logika, klasifikasi nalar, analogi, analisis serta komparasi antara ide dan tujuan—bahwa ide yang dilontarkan harus selaras dengan tujuan yang diinginkan.
Tujuan dari tahapan-tahapan pemikiran kreatif adalah menemukan wilayah-wilayah tak dikenal dan tersembunyi dalam pikiran saya dan Anda serta membuat sebuah peta untuk mengarahkan pikiran saya dan Anda.
Pemikiran kreatif adalah pionor saya dan Anda untuk memberitahu saya dan Anda tentang apa yang ada di dasar jiwa saya dan Anda, berupa nilai-nilai moral dan emosional yang maju; saya dan Anda ingin itu berkembang melampaui semua penghalangnya dengan segala jalan yang mungkin.
Pemikiran korelatif, kreatif dan terkoordinasi mampu mengadakan kontrak antara berbagai ide untuk memperoleh ide-ide baru. Saya percaya, Anda memiliki kemampuan alami untuk berpikir korelatif dan menghilangkan kekacauan dan kesamaran secara total dari pemikiran Anda.
Pemikiran yang korelatif selalu ada selama saya dan Anda berpikir secara benar. Semakin saya dan Anda korelasikan hubungan antara berbagai ide, maka semakin bertambah banyak kesempatan untuk menemukan ide-ide baru. Dan semakin saya dan Anda korelasikan hubungan secara tiba-tiba dan tak terduga, maka ide-ide baru itu makin kreatif dan segar. Dari sini dapat dilihat pentingnya menghubungkan berbagai tahapan berpikir yang kreatif.
Saya sangat percaya bahwa Anda lebih tahu apa kesimpulan dari tulisan ini. Kalau Anda biasa melakukan sebuah terobosan baru untuk sesuatu yang lama, maka saat ini adalah kesempatan terbaik bagi Anda untuk melakukannya. Jika Anda tidak mau memulai, maka biarkan saya yang akan mewujudkannya untuk diri saya dan untuk diri Anda. Akhirnya, selamat membangun kreatifitas! []
Tidak ada komentar:
Posting Komentar