Sabtu, 12 Maret 2011

by Ekky Siwabessy

Memberi tanda-tangan buku-buku yang dibeli para peserta

“Origami adalah kegiatan atau permainan melipat kertas yang bermanfaat untuk melatih otak dan motorik halus anak yang akhirnya dapat melatih dan mengasah kreatifitas anak. Selain itu, permainan ini akan menghilangkan ketergantungan anak-anak kepada jenis-jenis permainan moderen yang mengandung unsur kekerasan,” jelas Maya Hirai, Direktur Sanggar Origami Indonesia, dalam acara seminar bertema “Bermain Origami Mengaktifkan Otak Anak, Melatih Motorik Halus dan Kreatifitas Anak” di Gedung BP PNFI Regional I Jln Kenanga Raya, Medan.

Acara yang diselenggarakan oleh Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Pendidik Usia Dini “Bunayya” YPSDI-Al Hijrah Medan ini, selain menggelar seminar juga mengadakan workshop dan pameran karya-karya origami.

Meskipun dikenakan biaya sebesar Rp 200.000, tetap banyak peserta yang tertarik mempelajari seni melipat kuno dari negeri matahari terbit ini. Sekitar 200 peserta, pria maupun wanita dari kalangan guru sekolah dasar dan taman kanak-kanak serta orang tua murid mengikuti seminar serta mempelajari teknik-teknik lipatan dari Maya Hirai, Direktur Origami Indonesia, salah seorang instruktur origami bersertifikat dari Nippon Origami Association (NOA).

Para peserta juga mendapat fasilitas berupa buku origami karya Maya Hirai, sertifikat, seminar kit, dan sebagainya. Pada sesi pelatihan, para peserta diajarkan cara membentuk kertas-kertas cantik dan menarik menjadi berbagai bentuk seperti, burung, bola, dinosaurus, bunga dan lainnya.

Origami adalah sebuah seni lipat yang berasal dari Jepang. Bahan yang digunakan adalah kertas atau kain yang biasanya berbentuk persegi. Sebuah hasil origami merupakan suatu hasil kerja tangan yang sangat teliti dan halus pada pandangan.

Origami merupakan satu kesenian melipat kertas yang dipercayai bermula sejak kertas diperkenalkan pada abad pertama di zaman Tiongkok kuno pada tahun 105 Masehi oleh Ts’ai Lun. Pembuatan kertas dari potongan kecil tumbuhan dan kain berkualitas rendah ini telah meningkatkan produksi kertas pada masa itu.

Contoh-contoh awal origami yang berasal dari Tiongkok adalah tongkang (jung) dan kotak. Pada abad ke-6, cara pembuatan kertas kemudian dibawa ke Spanyol oleh orang-orang Arab. Pada tahun 610, di masa pemerintahan kaisar wanita Suiko (zaman Asuka), seorang biksu Buddha bernama Donchō (Dokyo) yang berasal dari Goguryeo (semenanjung Korea) datang ke Jepang memperkenalkan cara pembuatan kertas dan tinta. Origami pun menjadi populer di kalangan orang Jepang sampai sekarang, terutama dengan kertas lokal Jepang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar