Cara Hidup Selamat Vs Ledakan Kreatif
Dalam prinsip kreativitas, anda hanya perlu melakukan apa yang paling anda sukai agar suatu saat muncul sebuah ledakan besar. Ini masuk akal sebab anda akan memiliki kegembiraan besar ketika mengerjakan apa yang paling anda sukai. Dan, dengan perasaan gembira, anda niscaya akan bekerja secara khusyuk untuk mendapatkan hasil optimum.
Joanne Kathleen Rowling telah membuktikan itu. Ketika ia menjalani hari-hari muram, sebagian dengan depresi sebagian dengan kesulitan, ia mengerjakan apa yang disukainya sejak ia kecil: menulis. Kehidupannya yang pas-pasan, mula-mula sebagai sekretaris yang bekerja serabutan di Inggris dan kemudian sebagai guru bahasa Inggris di Portugal, membawanya pada situasi yang menyedihkan dan diakhiri dengan rumah tangga yang tak membahagiakan. Di Portugal ia menikah dengan seorang wartawan dan rumah tangga mereka bubar ketika bayi mereka berusia 3 bulan.
Dalam keadaan kocar-kacir ia membawa bayinya meninggalkan Portugal untuk menetap di Edinburgh, Skotlandia, berdekatan dengan rumah adiknya. Ibu tunggal ini, ditopang hidupnya oleh santunan dari Dewan Kesenian Skotlandia, kemudian rajin bertandang ke kafe setiap malam setelah menidurkan bayinya atau kadang ia menidurkan anaknya di kafe itu. Beberapa tahun ia menjalani hidupnya seperti itu, memesan segelas kopi dan menyeruputnya sedikit-sedikit untuk mempertahankan waktunya lebih lama di tempat itu. Anda tahu, di situ ia mengerjakan naskah-naskahnya dengan tulisan tangan, sebab ia bahkan tidak bisa membeli mesin ketik bekas, apalagi komputer.
Situasi yang nyaris serupa dialami oleh Sobron Aidit. Luntang-lantung di negeri orang karena tak bisa pulang ke negeri sendiri, adik D.N. Aidit ini merasa perlu melakukan sesuatu agar hidupnya menjadi lebih berarti. Ia tidak ingin sekadar menjadi tua dari hari ke hari dan memasrahkan diri sepenuhnya pada belas kasih pemerintah negara lain. Sebenarnya tunjangan sosial yang diberikan oleh pemerintah Perancis cukup baginya untuk hidup leyeh-leyeh saja. Tetapi harus ada yang dilakukan, dan ia suka memasak.
Maka ia bisa melakukan sesuatu dengan kesukaannya itu. Ia bisa membuka restoran Indonesia di Perancis. Ia bayangkan restoran itu nantinya tidak cuma menjadi seperti warteg di mana orang-orang yang lapar mampir makan dan kemudian pergi. Restoran itu juga akan menjadi ruang pertemuan bagi orang-orang Indonesia yang ada di Eropa. Tetapi bagaimana seorang luntang-lantung bisa mendirikan restoran? Ia tidak mempunyai modal untuk mewujudkan keinginannya.
O, itu bisa diatasi, kata kawannya orang Perancis. Modal bisa diupayakan dengan cara menarik di muka uang tunjangan sosial untuk sepuluh atau lima belas tahun. Tetapi ia harus benar-benar yakin dengan usaha restorannya, sebab setelah itu ia tidak akan mendapatkan lagi tunjangan sosial setiap bulan mengingat jatahnya sudah ia tarik di muka. Tak ada masalah, kata Sobron. Yang penting urusan permodalan bisa diatasi. Dan hidup dari hasil jerih payah sendiri tentu saja lebih baik dibandingkan menghabiskan sia usia sebagai binatang piaraan yang makanannya disokong oleh si empunya piaraan. Ia tak ingin tidur-tiduran dan mondar-mandir saja di sangkar. Lalu mati jika saatnya tiba.
Orang lain lagi yang bisa kita bicarakan di sini adalah Giles Foden, penulis novel The Last King of Scotland, sebuah fiksi berdasarkan kehidupan diktator Uganda Idi Amin Dada. Bertahun-tahun anak muda ini dikuasai obsesi untuk menulis sesuatu tentang pemimpin yang telah membantai sekitar 300.000 warganya ini. Dan tak ada hal lain yang bisa dilakukan oleh anak muda yang terobsesi kecuali mewujudkan apa yang menjadi obsesinya.
Dengan beasiswa penulisan kreatif dari Cambridge, 1990, Foden akhirnya bisa mulai menulis tentang diktator Afrika yang sekian lama memenuhi benaknya. “Tetapi apa yang bisa ditulis oleh seseorang dengan sedikit pengalaman dan separuh imajinasi?” tanya Foden pada dirinya sendiri. Pertanyaan itu membawanya ke pemikiran bahwa Idi Amin tidak sekadar sosok yang berlumur tragedi; ia juga komedi. Foden menggunakan sosok ini sebagai model bagi tokoh fiksinya dan membaurkannya dengan ketegangan yang biasa dijumpai dalam drama-drama masa Renaisans. Ia membangun plot dari hubungan aneh antara Idi Amin dengan karakter fiktif, seorang dokter Skotlandia, dan menggabungkannya dengan riwayat Idi Amin hingga tiba masa kejatuhannya. Dan ia juga membaurkan sosok Idi Amin dengan Gargantua yang sanggup makan dalam porsi yang kolosal.
Tak lama setelah novel itu terbit, seorang pengusaha yang bekerja untuk keluarga kerajaan Saudi Arabia menelepon Foden dan mengatakan: “Ada pesan untukmu. Dari Idi.” Menurut penelepon tak dikenal itu, Idi Amin membaca membaca terjemahan novel itu dalam bahasa Swahili dan memberikan komentar, “Sebagian besar novel ini fiksi belaka. Dan di sampul depan itu saya kok tampak seperti monyet kekenyangan.”
Begitulah, hanya dari sesuatu yang anda senang melakukannya, anda bisa mengharapkan munculnya ledakan kreativitas ketika saatnya tiba. Novel oleh penulis muda ini sukses di pasar. Kisah persahabatan dokter Skotlandia dan Idi Amin itu kemudian difilmkan dengan judul sama, The Last King of Scotland, dan pada 2007 Forest Whitaker meraih piala Oscar sebagai pemeran utama pria untuk perannya sebagai Idi Amin.
Ledakan yang sama dialami juga oleh Sobron dengan restoran yang ia dirikan dengan modal dari uang tunjangan sosial yang ditarik di muka. Restorannya itu menjadi tempat yang sangat dikenal. Ia dikunjungi antara lain oleh intel Orde Baru sampai Presiden Gus Dur. Dan restoran itu benar-benar menjadi tempat berkumpul yang meyenangkan bagi orang-orang Indonesia di Eropa.
Ledakan terbesar tentu saja bisa anda saksikan pada novel anak-anak yang naskahnya ditulis tangan oleh J.K. Rowling. Setelah beberapa kali ditolak-tolak, naskah Harry Potter and Philosopher’s Stone akhirnya terbit; Rowling menjualnya dengan harga 4.000 dolar. Itu awal bagi sukses raksasa yang terjadi tak lama sesudahnya. Menjelang musim panas tahun 2000, tiga buku pertama Harry Potter telah menangguk keuntungan lebih dari 400 juta dolar AS dan diterjemahkan ke dalam 35 bahasa. Sekarang Rowling tinggal di Skotlandia, di tepi sungai Tay, bersama suami keduanya yang memberinya tambahan dua anak lagi. Ia adalah salah satu perempuan terkaya di Inggris.
Maka, saya ingin mengulangi prinsip di awal tulisan ini: lakukan apa yang paling anda sukai. Tetapi ada pola di sana yang bisa anda perhatikan: anda bisa melakukan sesuatu yang anda sukai ketika anda tidak kepayahan mengatasi kebutuhan elementer. Di negara-negara yang “baik hati”, pemerintah memberikan jaminan agar warganya tidak hidup keleleran, dan dengan demikian setiap orang punya kesempatan untuk, secara serius, melakukan sesuatu yang mereka sukai.
Situasi anda tentu jauh lebih sulit, sebab negara ini tidak memiliki “kebaikan hati” untuk meringankan hidup anda. Ia juga tidak bisa memberi anda “modal” untuk membangun sesuatu. Seringkali anda terpaksa melakukan apa yang tidak anda sukai, hanya demi menjalani hidup yang serba kekurangan, dan anda tak memiliki sisa waktu dan tenaga dan imajinasi untuk melakukan apa yang anda sukai. Saya paham bahwa inilah risiko hidup di negara yang gagal menjalankan fungsi minimumnya untuk melindungi, apalagi menyejahterakan, seluruh warga. Banyak orang terlunta-lunta nyaris tanpa campur tangan negara.
Sejujurnya, saya menulis ini dengan perasaan sangat sedih mengingat setiap hari sebagian besar warga negara hidup dalam situasi seperti terbenam dengan permukaan air mencapai leher. Sedikit saja ada guncangan, air akan masuk hidung dan memenuhi paru-paru anda. Dalam situasi demikian, kita hanya bisa menyaksikan bakat-bakat terbaik yang tidak mampu tumbuh optimum, atau gagal tumbuh sama sekali. Mungkin kita harus mengikuti nasihat yang lain: jika anda ingin selamat, satu-satunya cara adalah menginjak kepala orang. Atau itu yang sedang terjadi sekarang?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar