Belajar Hidup Kreatif
“Kreativitas berpikir menciptakan pribadi yang mampu menyulap impian menjadi realitas. Pemikiran kreatif mampu meningkatkan kualitas dan menambah kegembiraan hidup.”
AWAL Agustus 2010 yang lalu, saya baru saja berpindah tempat tinggal dari Jl. Ahmad Yani No. 873 Bandung ke Gang Cempaka No. 133 Gegerkalong Bandung. (Sekarang sudah tinggal di Cirebon, Jawa Barat—ed.). Saya mengontrak sebuah kamar kontrakan milik Pak Rasyid, pemilik kontrakan yang ada di sekitar kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, tepatnya di dekat Pondok Pesantren Daarut Tauhid pimpinan KH. Abdullah Gymnatsiar (Aa Gym).
Di kontrakan ini saya menempati kamar nomor 3—karena penghuni kamar nomor 2 pulang ke Jawa Tengah dan tidak kembali lagi, akhirnya saya pindah ke kamar nomor 2. Sebagai penghuni baru saya pun membernaikan diri untuk bertamu dan bersilaturahim ke beberapa tetangga di komplek kontrakan.
Bekerja sebagai editor di penerbitan Muda Cendekia yang berkantor di Utan Kayu, Jakarta[1] tidak membuat saya merasa lebih istimewa dari penghuni yang lain. Bahkan saya sangat percaya, merekalah yang menjadi sumber energi baru saya dalam menjalani pekerjaan saya kelak.
Ada beberapa orang yang saya kenal. Ada pak Rasyid (pemilik kontrakan), Andi (Mahasiswa UIN Bandung angkatan 2007 asal Lampung), Wisnu (Mahasiswa Imarot angkatan 2010 asal Pati), Imaduddin (Mahasiswa UPI angkatan 2010 asal Balikpapan) dan beberapa tetangga yang belum begitu saya kenal.
Beberapa hari setelah itu, saya terus melanjutkan kebiasaan silaturahim ini. Mereka juga melakukan hal yang sama. Banyak hal yang saya dan mereka bicarakan. Dari seputar perjalanan masing-masing menuju ke Bandung, pengalaman kuliah, pengalaman hidup hingga sumber kehidupan dan lain-lain. Ya, seperti standar pembicaraan para perantau umumnya. Mungkin Anda juga pernah mengalami hal yang sama.
Dari berbagai dikusi atau sekedar obrolan singkat tentu saya dan juga mereka memperoleh banyak hikmah. Secara pribadi saya merasa mendapatkan energi dan semangat baru untuk melanjutkan aktivitas yang sudah biasa saya lakukan selama ini: menulis (buku, makalah, artikel dan lain-lain), mengedit naskah, membaca berbagai macam buku dan lain sebagainya. Dari situ pulalah rencana besar saya untuk mendirikan penerbitan—yang akan menerbitkan—buku-buku hasil kesungguhan saya selama beberapa waktu terakhir, menjadi lebih terencana.
Yang membuat saya penasaran dan kagum adalah dua orang tetangga sebelah kamar yang cukup kreatif. Tepatnya di kamar 1. Kamar kontrakan di sebelah kamar saya dihuni oleh 2 orang anak muda yang cukup bersahabat dan ramah. Mereka adalah Imad dan Wisnu. Saya tidak begitu tahu bagaimana perjalanan hidup mereka. Namun penting bagi saya untuk menceritakan sedikit keunikan yang saya peroleh dari diksusi dan obrolan dengan mereka beberapa waktu terakhir. Baik di waktu pagi, siang, sore maupun malam hari.
Imad adalah mahasiswa asal kalimantan yang idealnya dulu pada tahun 2008 mesti sudah kuliah. Namun karena beberapa kendala akhirnya dia urung untuk melanjutkan kuliahnya. Sekarang dia sudah masuk UPI angkatan 2010. Sementara Wisnu adalah mahasiswa asal Jawa Tengah. Dia masuk kuliah ke Ma’had Al-Imarot tahun 2010.
Mereka adalah perantau yang sudah tidak mendapatkan biaya lagi dari orang tua dan keluarga mereka. Mereka benar-benar mandiri. Konon kabarnya, mereka sudah hampir setahunan mengikuti beberapa kajian dan pelatihan di DT. Terutama kegitan pelatihan sebuah unit yang secara khusus untuk membangun usaha mandiri santri dan masyarakat umum.
Beberapa hari di kontrakan ini saya memperoleh banyak keunikan. Salah satunya adalah kebiasaan mereka untuk bangun malam. Sebagian besar tetangga di dekat kontrakan saya terbiasa bangun malam. Ya, mereka sangat rajin menunaikan shalat malam. Tentu, saya juga penasaran apa gerangan yang mereka lakukan ketika sebelum dan sesudah shalat malam. Beberapa kesempatan saya mengintip mereka. Ternyata mereka sibuk dengan barang dagangan mereka. Hal ini saya baru ketahui setelah beberapa hari kemudian.
Adalah Imad dan Wisnu, dua orang yang cukup mendapat perhatian saya. Mereka adalah pedagang gorengan kentang di depan DT. Setiap hari—selain hari yang memang mereka sepakati untuk libur berdagang karena digunakan untuk mencari inspirasi di beberapa tempat di Kota Bandung—mereka berdagang. Berangkat pagi pulang malam merupakan aktivitas rutin mereka. Begitu seterusnya.
Sebelum shalat subuh mereka sudah bangun. Setelah subuh mereka sudah bersedia untuk melanjutkan aktivitas mereka pada hari-hari bersangkutan. Sebelum berangkat pada paginya mereka sudah menyiapkan segalanya dengan cermat. Ada yang membersihkan kentang, ada juga yang menyiapkan kebutuhan lain yang mereka butuhkan pada saat berdagang nanti. Intinya benar-benar terencana dan unik. Fenomena bergeraknya ekonomi dunia seakan-akan terwujud dalam kehidupan mereka.
Sebelumnya saya tidak menduga kalau penghasilan mereka dari penjualan ini cukup signifikan. Terutama jika dibandingkan dengan penghasilan pedagang biasa. Hal ini saya ketahui dari tetangga lain yang sempat bertamu ke kamar kontrakan saya beberapa hari sebelumnya. Mereka bercerita kalau Imad dan Wisnu sudah cukup berpenghasilan dari jualan mereka beberapa waktu terakhir. Hasil dagangan mereka perhari bisa mencapai Rp 200.000 bahkan lebih. Artinya, kalau setiap hari mereka berjualan, maka dalam sebulan mereka mendapatkan uang Rp. 6.000.000. Atau sama-sama Rp. 3.000.000/orang.
Yang membuat saya semakin kagum adalah kesederhanaan dan sikap mereka. Walaupun memperoleh uang sebanyak itu, mereka tetap memperlihatkan kehidupan sederhana. Hal ini saya pahami dari pola makan, pola hidup dan penampilan mereka. Mungkin bagi yang lain, kalau berpenghasilan 2 sampai 3 juta rupiah perbulan sudah cukup untuk berpenampilan yang lebih beda, banyak gaya dan lain sebagainya. Atau juga mungkin digunakan untuk hal-hal yang tak bermanfaat lainnya. Namun, saya tidak menemukan hal itu pada diri mereka. Bahkan kalau Anda bertamu, Anda tidak percaya kalau mereka memiliki penghasilan yang cukup besar—untuk kalangan mahasiswa. Bagi saya ini adalah kenyataan yang mesti diteladani oleh siapapun, terutama saya—mungkin juga Anda—yang juga sedikit banyak memiliki pengalaman yang sama dengan mereka.
Ada sebuah keunikan lain yang mesti saya ceritakan di sini. Anda mungkin gengsi memakan makanan sederhana jika Anda berpenghasilan seperti mereka. Tapi percayalah bahwa hal itu tidak akan Anda temukan dalam kehidupan mereka. Coba Anda perhatikan kesederhanaan mereka. Beras 1 karung seharga sekitar Rp. 140 sampai Rp. 160.000 bisa dipakai untuk menutupi kebutuhan makan mereka selama 2 bulan. Coba bandingkan dengan anak kosan lain, dalam sehari untuk makan saja bisa sampai Rp. 30.000. Artinya, kalau situasinya terus normal seperti itu, maka bisa dipastikan dalam sebulan untuk makan saja menghabiskan uang sebesar Rp. 900.000. Coba bandingkan. Mungkin Anda tidak terlalu percaya dengan apa yang mereka lakukan, tapi saya sudah melihat dengan mata saya sendiri. Itu fakta. Satu hal yang penting bagi saya dan juga Anda adalah bahwa betapa kesederhanaan dan berpikir kreatif itu penting.
Saya tidak perlu menceritakan semua yang saya lihat dan perhatikan selama beberapa waktu ini. Cukup beberapa contoh di atas menjadi sumber inspirasi saya dan tentu juga Anda. Sebetulnya pemenuhan kebutuhan hidup itu tidak selalu ditentukan oleh banyak atau tidaknya uang. Uang hanyalah salah satu sarana pemenuhan kebutuhan dan kebahagiaan yang Anda ingin wujudkan. Yang paling utama yang mesti saya dan Anda miliki adalah kemampuan untuk mengendalikan uang dan fungsinya dalam tempat dan waktu yang tepat. Tanpa itu, saya dan Anda hanya menjadi budak uang, sebuah kertas dan logam yang tidak selalu lebih berat dari kotoran yang saya dan Anda buang ke WC setiap pagi.
Imad dan Wisnu memperlihatkan kepada saya dan Anda bahwa dalam kondisi yang darurat sekalipun—seperti tidak mendapatkan biaya dari orangtua—sebetulnya tidak membatasi saya dan Anda untuk hidup dan melakukan yang terbaik bagi kehidupan saya dan Anda. Artinya, banyak cara yang bisa saya dan Anda lakukan untuk menghadapi setiap kenyataan hidup yang saya dan Anda hadapi. Bisa berdagang kecil-kecilan, efektifitas penggunaaan uang, penyederhaan pola makan, pola hidup, pemanfaatan waktu luang untuk hal-hal yang bermanfaat, kemampuan untuk berdisiplin dan mengatur rencana kerja dan lain sebagainya.
Fenomena di atas adalah kenyataan yang perlu dijadikan teladan. Walaupun masih ada pendapat yang meragukan kemampuan para perantau dalam banyak hal, tentu tidak membuat saya—semoga Anda juga demikian—tersurut untuk menjadi yang terbaik. Dalam hal ini Imad dan Wisnu adalah sumber inspirasi saya, semoga Anda juga demikian. Mereka memperlihatkan sebuah fakta bahwa hidup sederhana itu lebih baik dan menyenangkan, bahkan mampu menghasilkan sesuatu yang lebih dahsyat dari apa yang biasanya diperoleh. Anda terinspirasi? Sebelum Anda menjawab, saya akan menjawab lebih awal: saya sangat terinspirasi.
Sebetulnya dari beberapa orang yang merantau (baca: kuliah) di Bandung maupun di kota lainnya di Indonesia (khususnya di pulau Jawa), saya memperoleh pelajaran yang juga tak kalah penting dan inspiratifnya. Walau dengan berbagai macam kendala, sebagian besar mereka sukses dalam mewujudkan impian dan cita-citanya. Tanpa biaya dari orangtua atau keluarga mereka sekalipun, mereka tetap semangat dan terus berkarya mewujudkan impian mereka. Mungkin mereka terprovokasi dengan pernyataan Abdullah bin Mubarak berikut ini:
“Orang bijak adalah dia yang hari ini mengerjakan apa yang orang bodoh akan lakukan tiga hari kemudian”.
Percaya atau tidak percaya, para perantau biasanya berani mengambil resiko, terbiasa untuk berkreativitas, tidak terlalu matematis dalam berhitung, cukup dewasa dan berbagai keunikan lain yang Anda sendiri bisa mendapatkannya secara langsung ketika hidup atau melihat pola hidup dan pikir mereka. Atau mungkin Anda sendiri sudah mencoba merasakan atau mengalaminya. Jika iya, saya berharap agar Anda menuliskannya biar yang lain bisa mengambil manfaat dari pengalaman Anda.
Lalu, timbul pertanyaan, mengapa para perantau bisa begitu? Yang saya ketahui, di antara penyebabnya adalah karena mereka biasanya tak mau menghiarukan apapun yang mereka hadapi. Mereka tidak terbatasi kreativitasnya karena lingkungan yang tidak mendukung. Kalau mereka mau beraktivitas maka mereka sudah bisa melakukannya sendiri. Mereka sangat mudah melakukan sesuatu apa pun yang terlintas pada pikiran mereka. Walaupun kadang karena keterpaksaan, mereka bisa melakukan semuanya dengan kesungguhan. Begitulah kenyataan yang sering terjadi. Lagi-lagi mereka adalah manusia kreatif.
Mereka bukan saja sebagai perantau—yang mungkin menurut kebanyakan orang mesti mendapatkan biaya dan bimbingan orangtua mereka secara langsung—mereka juga sebagai diri mereka sendiri. Sebab di tanah orang, menurut mereka, seseorang mesti menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri. Mereka kadang mesti menjadi Ayah, mesti menjadi Bunda, mesti menjadi Kakak, mesti menjadi Adik dan mesti menjadi keluarga bagi dirinya sendiri. Sebab, jika mereka manja dimana dirinya mesti dekat dengan semua keluarganya, maka mereka akan lumpuh dari kreativitas. Mereka akan menjadi sampah bagi dirinya sendiri. Dan inilah yang akan membuat mereka kelak menjadi manusia yang tak ada apa-apanya selain menjadi beban bagi kehidupan mereka sendiri juga lingkungan mereka.
Ya, seorang perantau mesti mampu mengendalikan situasi hidupnya. Baik untuk dirinya sendiri maupun untuk lingkungan dimana dia hidup. Biasanya perantau terbiasa untuk melakukan sesuatu di luar kemampuan penduduk asli. Perantau itu ibarat anak kecil yang terus belajar merangkak. Mereka kadang jatuh, tapi dengan bangganya bangkit kembali. Begitu seterusnya. Sungguh sebuah pelajaran berharga mengenai bagaimana semestinya saya dan Anda hidup dan menjalani kehidupan.
Semua orang pernah merasakan kegagalan, ketidakberhasilan, kesalahan, kekeliruan, kecerobohan dan banyak hal yang sifatnya kegagalan. Dalam hal apapun itu. Baik dalam bidang politik, ekonomi, pendidikan, sosial maupun yang lainnya. Pokoknya serba-serbi kondisi yang kadang membuat frustasi, stress dan lain sebagainya.
Kebiasaan hidup kebanyakan orang memang nyaman dengan kondisi nyaman. Jarang sekali berpikir di luar kotak. Biasanya, kebanyakan orang berpikir dan bertindak kreatif jika kondisi atau keadannya sudah kepepet. Itu tak salah, namun jangan terus-terusan karena kepept saja. Dari para perantau saya dan Anda mendapat pelajaran bahwa mereka berpikir keras dan sungguh-sungguh, baik untuk memenuhi kebutuhan mereka maupun untuk yang mereka cita-cita atau impian mereka di tanah rantauan. Lagi-lagi, minimal untuk kebutuhan mereka sehari-hari, untuk apa yang mereka makan hari ini dan besok pagi.
Kreativitas dalam berpikir bertujuan untuk meningkatkan dan mengembangkan kepribadian individu sesuai dengan tujuan, cita-cita dan impian yang ingin diwujudkan. Katakan, saya atau Anda ingin menjadi penulis. Maka, saya dan Anda mesti kreatif dalam berpikir agar mampu meningkatkan dan mengembangkan kepribadian saya dan Anda supaya tujuan menjadi penulis yang saya dan Anda impikan itu terwujud. Saya dan Anda mesti serius dan sungguh-sungguh untuk mewujudkan impian tersebut. Demikian juga dalam hal lain yang ingin saya dan Anda wujudkan.
Hal inilah yang membedakan kualitas dan hasil kerja dari setiap manusia. Katakan, misalnya, saya dan Anda hanya diam dan merasa nyaman dengan keadaan yang saya dan Anda alami sekarang, merasa bahagia dengan apa saya dan Anda peroleh sekarang, maka bisa dipastikan apa yang saya dan Anda peroleh selanjutnya hanyalah sebagian kecil dari sesuatu yang seharusnya saya dan Anda mesti memperolehnya lebih besar. Sebaliknya, jika saya dan Anda keratif, tidak tinggal diam dengan keadaan, maka yang saya dan Anda peroleh adalah sebuah hasil yang luar biasa. Sadar atau tidak saya dan Anda sadari. Yang mesti saya dan Anda lakukan adalah menjaga stamina semangat dan tekad saya dan Anda untuk merubah sebuah kondisi yang membahayakan kehidupan saya dan Anda.
Ketahuilah, semua orang punya potensi untuk berkreativitas, maka kreatiflah. Adalah penting bagi saya dan Anda untuk mengambil hikmah dari pengalaman para perantau, termasuk kepada Imad dan Wisnu, seperti yang saya jelaskan di atas. Saya dan Anda mesti menanggalkan baju kenyamanan terhadap keadaan yang membuat saya dan Anda merasa nyaman dan tidak perlu melakukan sesuatu lagi. Ketahuilah, rasa nyaman itu tak selalu menyamankan masa depan. Karena itu, jangan terlalu tergoda untuk diam dalam kondisi apapaun. Lakukan sesuatu dan bergeraklah, jika saya dan Anda diam maka saya dan Anda akan mati sebelum nyawa berpisah dengan fisik saya dan Anda.
Banyak hal yang bisa saya dan Anda lakukan. Dari hal-hal besar, bahkan juga hal-hal yang kecil atau sederhana. Yang penting tidak diam dengan keadaan membuat membuat saya dan Anda terus merasa nyaman dan tak berpikir lebih panjang atau untuk melakukan sesuatu yang boleh jadi bisa dan perlu saya dan Anda lakukan sekarang. Jangan menunggu waktu esok dan lusa, karena boleh jadi besok saya dan Anda tak mampu melakukan apa-apa. Bagaimana, apakah Anda terprovokasi? Itu adalah visi saya dalam menulis tulisan ini.
Adalah Mihaly Csikszentmihalyi, seorang ahli kreativitas selama 30 tahun meneliti kehidupan orang-orang kreatif. Menurut Mihaly, ciri-ciri orang kreatif mencakup:
1. Orang-orang kreatif memiliki tingkat energi yang tinggi dan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk istirahat. Namun, begitu selesai, mereka juga bisa menghabiskan waktu berhari-hari untuk mengisi ulang tenaga mereka. Sebagian besar orang menganggap mereka seperti orang malas.
2. Orang-orang kreatif merupakan orang cerdas meskipun terkadang mereka berpikir ala orang bodoh dalam memandang persoalan.
3. Orang-orang kreatif merupakan orang yang penuh kedisiplinan dan ketekunan. Mereka melakukan pekerjaannya begitu antusias sehingga terkesan seperti sedang bermain-main, padahal sebenarnya mereka juga bekerja keras.
4. Pikiran orang-orang kreatif selalu penuh daya imajinasi, fantasi dan tidak melupakan realitas. Mereka mampu mengembangkan ide-ide yang belum pernah tercetus oleh manusia lainnya. Selain itu, mereka juga berusaha untuk menjembatani dunia khayalan mereka dengan kenyataan sehingga orang lain bisa ikut mengerti dan menikmatinya.
5. Orang-orang kreatif cenderung bersifat introvert dan ekstrover. Mereka sangat menkmati baik pergaulan dengan orang lain (terutama orang-orang kreatif lain yang sehobi) maupun kesendirian dalam mengerjakan sesuatu.
6. Orang-orang kreatif biasanya rendah hati dan terkadang bangga dalam pencapaiannya. Mereka menganggap ide-ide mereka tidak muncul begitu saja, melainkan hasil olahan inspirasi dan pengetahuan yang diperoleh dari lingkungan. Mereka juga berfokus pada rencana masa depan atau pekerjaan saat ini sehingga presatsi di masa depan tidak berarti bagi mereka.
7. Orang-orang kreatif adalah androgini. Mereka mendobrak batas-batas yang kaku dari stereotype gender mereka.
8. Orang-orang kreatif selalu menjadi pemberontak, tapi mereka selalu menghargai budaya lama.
9. Orang-orang kreatif sangat bersemangat mendalami pekerjaannya dan mereka juga sangat objektif dalam menilai hasil pekerjaan mereka.
10. Orang-orang kreatif pada umumnya lebih terbuka pada hal-hal baru dan sensitive pada lingkungan.
Imad dan Wisnu sangat tepat disebut sebagai orang kreatif, karena hampir semua ciri di atas saya saksikan ada dalam diri mereka. Lalu, bagaimana dengan saya dan Anda? Ini adalah pertanyaan yang perlu saya dan Anda jawab.
Apa yang saya ceritakan di atas adalah penggalan sederhana yang menurut saya layak diambil hikmahnya. Siapapun Anda, saya sangat percaya bahwa setiap Anda mampu menjadi yang terbaik, mampu melakukan sesuatu yang baru, dan melakukan hal-hal yang unik. Bersungguh-sungguhlah untuk itu. Kalaupun Anda belum melakukan hal-hal yang besar dan banyak, maka mencobalah untuk melakukan hal-hal yang kecil walau sedikit. Percayalah, suatu saat Anda sendirilah yang akan mendapatkan hasilnya. Jujur, saya tidak ingin menjadi bangkai yang tak mau bergerak, dan karena itu saya mesti belajar dari mereka yang berpengalaman; ya dari Imad dan Wisnu. Selamat berkreasi wahai penakluk masa depan! []
Tidak ada komentar:
Posting Komentar